Butuh dua bulan setelah kejadian, untuk meyakinkan diri menulis ini. Artikel Mendampingi Istri Hingga Akhir https://gpib.or.id/mendampingi-istri-hingga-akhir/, mendorong Pengurus Pusat Yapendik GPIB untuk mengenang kebaikan almarhumah Pdt. Sintiche Dethan, pada sekitar sebulan sebelum kepergiannya.

Tanggal 22 Februari 2020, atau beberapa hari sebelum Persidangan Sinode Tahunan di Bogor, Yapendik GPIB mengadakan acara rutin Rapat Tahunan Pembina di Jakarta. Belum ada konfirmasi positif pasien Covid-19 dari pemerintah, apalagi PSBB. Kegiatan itu dihadiri hampir seluruh Pengawas Cabang, atau Ketua Majelis Jemaat, yang mengurus sekolah Yapendik GPIB. Salah satunya, almarhumah Pdt. Sintiche Dethan, pengawas cabang Bahtera Hayat Batam, Kepulauan Riau.

Pada Sabtu pagi itu, sudah terbayang betapa sibuknya Rapat Tahunan Pembina, karena salah satu staf kantor Yapendik GPIB menjalani cuti urusan keluarga. Artinya, staf tersisa akan merangkap sebagai keyboardis ibadah, dan kerja sekretariat kemungkinan menumpuk.

Namun, kekuatiran itu sirna. Tak disangka, tanpa diminta oleh siapa pun, seorang penolong datang. Almarhumah Pdt. Sintiche menghampiri pengurus dan menawarkan diri siap menjadi keyboardis. Sebuah inisiatif yang tak terbayang sebelumnya.

Saya sempat ingin meniadakan iringan keyboard, agar tak membebani satu staf yang ada. Sempat juga ingin meminta tolong pengurus atau pengawas (para pendeta) yang hadir, tetapi tidak tahu siapa. Kalau pun ada, permintaan itu pun akan dipikirkan berulang kali karena rasa sungkan.

Namun, seorang pendeta langsung datang ke area keyboard, dan menyatakan bisa mengiringi ibadah pembukaan serta penutupan. Kekaguman dan rasa hormat langsung tumbuh, menambah kesan menyenangkan di awal perkenalan.

“Saya minta tata ibadahnya ya,” pinta mendiang Pdt. Sintiche.

Karena kesulitan menempatkan buku lagu di hadapannya, almarhumah juga sempat meminta penjepit kertas. Hanya tata ibadah dan penjepit kertas yang dimintanya. Tidak ada yang lain. Sekitar 1 jam kemudian, saya baru bisa memberikan penjepit tersebut. “Tidak apa-apa, saya sudah pakai jepit bolpen dulu,” katanya sambil tersenyum.

Hanya sempat sekali latihan, menyesuaikan dengan tata ibadah di layar, saya terpaksa meninggalkan almarhumah sendiri di ruang rapat. Untuk mengisi kekosongan sebelum dimulainya acara, Pdt. Sintiche berinisiatif memainkan lagu-lagu rohani sendiri untuk meramaikan suasana, kembali, tanpa diminta oleh siapa pun.

Ibadah pembukaan berjalan lancar dan kegiatan rapat pun dimulai. Saya duduk bersebelahan dengannya, dengan 1-2 kursi kosong di antara kami. Bukan untuk menjaga jarak sebenarnya. Karena belum ada imbauan apa pun terkait virus, yang saat itu masih disebut Virus Corona Baru atau Virus Wuhan.

Di sela-sela rapat, saya ingat kami berinteraksi. Saat itu saya baru tahu nama panggilannya, Pdt. Ike, dan meminta langsung menulis nama lengkapnya, agar tak salah dalam ucapan terima kasih. Almarhumah juga bertanya beberapa hal tentang Pengurus Pusat. “Bagus Yapendik punya pengurus muda,” pujinya. Saya menyampaikan, semoga keragaman pengurus tetap berlangsung saat pengurus baru 2020-2025 nanti. “Seharusnya GPIB mulai memberi kesempatan ke orang muda,” harapnya.

Di sela-sela presentasi para pengurus cabang, Pdt. Sintiche terlihat antusias mendengarkan. Sesekali almarhumah menganggukkan kepala, menulis hal-hal penting, dan terdengar samar memuji, saat pengurus lain menyampaikan prestasi tertentu.

Almarhumah juga bercerita ingin menghadiri Ibadah Hari Minggu 23 Februari 2020 di GPIB Paulus Jakarta. “KMJ-nya (Pdt. Widyati Simangunsong-Sudarisman) teman saya,” ceritanya. Keinginan yang akhirnya bisa dipenuhi karena keesokan hari, hampir seluruh peserta rapat sepakat mengikuti IHM di GPIB Paulus.

Kembali ke ruang rapat, sekitar 9 jam berlangsung, panitia memutuskan untuk menutupnya malam itu juga. Kesibukan dimulai lagi karena tata ibadah penutupan harus dimodifikasi. Pemberita firman ibadah penutupan harus segera dipastikan hadir, dan mengubah materi khotbah yang disiapkan.

Sementara keyboardis Pdt. Sintiche harus berlatih dengan lagu-lagu. Saya meminta maaf berkali-kali karena banyak mata acara dadakan. Tata ibadah pun harus dipersingkat semaksimal mungkin, karena hari sudah larut malam. Saat orang lain biasanya akan menambah kepanikan, mempertanyakan ini-itu, menghakimi kenapa tidak disiapkan sebelumnya; almarhumah justru hadir menenangkan.

“Tidak masalah. Saya ikuti saja apa pun yang ditampilkan di layar tata ibadah,” tuturnya.

Tanpa berlatih lama, mendiang Pdt. Ike menolong kami sekali lagi. Beberapa orang termasuk Pemberita Firman ibadah pembukaan Pdt. J. Marlene Joseph, dan staf Yapendik GPIB Eveline memuji kepiawaiannya mengiringi ibadah, dengan pilihan alunan bas yang enak diikuti.

Sekali lagi, mendiang Pdt. Sintiche  hadir menenangkan dan menjadi jawaban atas problem, bahkan memperindah ibadah dengan iringan keyboard-nya.

Malam itu berakhir dan kami berpamitan, saya sekaligus menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatifnya melayani sebagai keyboardis. Keesokan harinya, almarhumah sempat lewat di depan kursi saya di balkon GPIB Paulus.

Saat PST, saya tidak banyak berinteraksi dengan almarhumah. Sempat mengirim foto saja saat mendiang Pdt. Sintiche di-shoot kamera sebagai pimpinan sidang. Saya kirim foto tersebut juga kepada Pengurus Pusat, dengan caption kebanggaan 2 Pengawas ditunjuk menjadi majelis ketua PST: almarhumah dan Pengawas Sion Nunukan Pdt. Dian Otemusu.

Saat hari terakhir PST, Sabtu 29 Februari 2020, kami sempat berpapasan sambil saling melempar senyum di lorong hotel. Ibu Pdt. Sintiche berjalan sambil menelepon, dan itulah rupanya hari terakhir kami berjumpa.

Selanjutnya kabar sedih terdengar mulai dari konfirmasi status, pemakaian ventilator, sampai kepergiannya. Saat Pdt. Sintiche dipastikan berpulang ke Rumah Bapa di Sorga, saya tidak bisa tidur. Bukan sekadar karena rasa duka tetapi karena tekanan akibat pertanyaan dari sesama pelayan, yang belakangan rupanya menimbulkan gangguan psikosomatis. Bagian itu akan diuraikan di tulisan lain.

Semoga harapan almarhumah tentang peran generasi muda dapat terwujud di GPIB. Selain itu, sikapnya yang penuh inisiatif, rela membantu, dan memberi ketenangan, dapat terus diteladani. Selamat jalan Pengawas Cabang Bahtera Hayat Batam 2018-2020, Pdt. Sintiche Dethan.‚Äč

Penulis: Sekretaris 1 Yapendik GPIB Marlene Karamoy

(*)